Ekonom senior Institute Development of Economic and Finance (Indef) Faisal Basri menyindir para menteri yang ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) menangani pengendalian penyebaran Covid-19, malah lebih mementingkan investasi. "Pak Presiden, para menteri yang bertanggung jawab dalam penanganan Covid-19 lebih sibuk urusi investasi. Mereka sering ke luar negeri berhari-hari. Kalau mengurusi pengadaan, mereka memang sangat jempolan," kata dia dalam akun Twitternya @FaisalBasri, Jumat (4/12/2020). Faisal pun meminta kepada Presiden Jokowi untuk fokus menangani wabah virus corona (Covid-19) dengan cara membentuk tim khusus. Tim khusus tersebut yang benar-benar fokus menangani tanpa harus menjalani kerja sambilan. Pasalnya, dia sempat menyinggung para menteri yang menangani pandemi justru mengemban banyak tugas lainnya. "Pak Presiden, tolong segera selamatkan Indonesia. Jangan berharap para menteri menangani Covid-19 karena tugas mereka sudah sangat banyak. Ini bukan k...
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis Laporan Belanja Perpajakan 2019. Tercatat sepanjang tahun 2019 nilai belanja perpajakan (tax expenditure) hingga Rp 257,2 triliun. Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan, laporan belanja perpajakan 2019 berisi estimasi atas jumlah dukungan pemerintah dalam bentuk insentif perpajakan yang diberikan kepada masyarakat dan dunia usaha. "Publikasi tahun ini merupakan wujud kontinuitas transparansi fiskal serta akuntabilitas pemerintah kepada publik terkait kebijakan insentif perpajakan," ujar Febrio dalam keterangan resminya, Jumat (1/1/2021). Secara umum, belanja perpajakan adalah potensi penerimaan perpajakan yang tidak dikumpulkan dalam suatu tahun tertentu sebagai akibat adanya ketentuan khusus yang berbeda dari ketentuan perpajakan umum (benchmark tax system). Ketentuan khusus itu antara lain dalam bentuk pajak tidak terutang, pajak dibebaskan, pengurangan tarif pajak, dan sebagainya yang berpoten...
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan, pihaknya akan menjalani gerak cepat mengantisipasi kemungkinan adanya iklim ekstrim yang mempengaruhi jalannya produksi pangan di musim tanam 2021. Antisipasi itu sudah dirancang dengan percepatan tanam, infrastruktur air, serta pencocokan validasi cuaca dengan menggunakan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Selama ini kita selalu bersoal dengan masalah cuaca dan hama maka dilakukan mapping serta kerja sama dengan BMKG. Pasti kami terus bergerak cepat. Mudah-mudahan ini dapat berjalan dengan baik, dan bukan hanya beras yang terpenuhi tapi juga komoditas lain selalu tersedia," ujar Syahrul dalam keterangan resminya, Kamis (31/12/2020). Menurut Mentan, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan adalah modal utama dalam menjalani fokus kerja di tahun depan. Oleh karena itu, pendekatan kerja yang diambil harus berjalan efektif dan efisien. Ia bilang, rancangan sektor pertanian di 2021 ...
Comments
Post a Comment